Belajar sabar

Menjadi orang tua yang super paranoid dan panikan tentu sangat tidak menyenangkan. Apalagi untuk yang sumbu sabarnya pendek macam saya ini.

Seperti pengalaman hari ini yang rasanya perlu saya tuliskan simply untuk membuat saya merasa lebih baik dan menjadi pribadi lebih baik lagi tentunya. Karena jujur saja, rasanya gak enak banget.  i really really feel bad about it.

Ceritanya pada hari terakhir sekolah sekaligus pembagian raport TK B semester 1 di sekolah Kheif, kami lupa untuk minta raport aslinya. Kami butuh raport itu untuk di foto kopi dan di legalisir sebagai salah satu persyaratan pendaftaran SD.

Jadwal pengembalian formulir pendaftaran adalah di minggu pertama Januari (5-8 Januari). Karena sekolah Kheif baru aktif 6 Januari, maka saya dan suami sudah bertekad akan meminjam raport tsb untuk di foto kopi di tgl 6 tsb. Dan saya juga gak kepikiran menelepon sehari sebelum sekolah mulai karena saya simply berpikir semua baru akan aktif ya di tanggal 6 itu.

dan kesalahan #1: Tidak menyimpan nomor telepon guru 😦

sehingga saya datang di hari pertama sekolah dengan pemikiran simple saya. Pinjem raport, saya pergi foto kopi, lalu kembali ke sekolah, mengembalikan lagi raport ke sekolah, dan meminta cap legalisir dan tanda tangan. Mudah kan.

dan kesalahan #2: tidak sabaran, egois dan kurang empati

Ya, saya pikir semua itu simple aja. Lalu ketika gurunya tidak menyanggupi permintaan saya dan meminta saya kembali besok pagi, saya jadi kesal sekali. Kesal karena saya dan suami sudah bela-belain ijin pada atasan di kantor untuk datang siang, kesal karena merasa dipersulit. Kesal karena saya takut kalau menunggu besok, harus ijin dateng siang lagi ke kantor, takut tidak di jadikan prioritas oleh si calon SD idaman karena tidak mengembalikan formulir lebih awal. See, parah banget kan keparnoan saya. Padahal salah sendiri main go show aja dan berharap langsung mendapatkan apa yang diinginkan.

Karena kurang puas dengan penjelasan gurunya (yang bilang kalau buku raport hanya boleh di serahkan pada keluarga murid di akhir tahun ajaran saja), saya akhirnya mendatangi kantor pusat sekolah TK nya Kheif. Bukan maksud mengadu sih, cuma ingin kroscek saja, karena saya gak ngerti kenapa buku raport siswa tidak boleh di berikan sekarang. (waktu terima raport semester 1 cuma di kasih foto kopian berupa lembaran saja, buka berupa buku).

Setelah di sambut oleh guru disekolah pusat, langsung saya di info bahwa legalisir yang saya minta bisa di ambil setengah jam kemudian di sekolah cabang. dan di jelaskan bahwa memang kebijakan sekolah menahan raport itu karena takut raportnya hilang atau rusak.

Sepulang dari sekolah pusat, saya merasa gak enak dengan guru sekolah cabang. Tapi gengsi juga untuk ketemu sampe akhirnya suami saja yang masuk dan mengambil legalisirnya. Lalu kami menuju ke calon SD dan mengembalikan formulir dan berkas berkas pendaftaran.

Haizzz, Tentu saja i feel bad the whole time. Karena ketidaksabaran, egoisan, kurang empati, keparnoan dan kepanikan saya, membuat hubungan dengan guru dan staf sekolah anak jadi kurang harmonis.

Perkara masuk SD ini memang lagi bikin saya stres banget. Stres karena calon SD idaman memprioritaskan siswa dari TK yang sama. Sehingga quota untuk non TK nya tersisa 50-60 kursi saja alias 2 kelas. Plus SD idaman ini satu2nya sekolah berbasis Islam di daerah tempat tinggal saya. Jadi besarrrr sekali harapan kami agar Kheif bisa diterima. Saking besarnya i almost have zero tolerance for imperfection. Dibuktikan dengan pertengahan November tahun lalu saja kami sudah mendatangi TU SD tsb menanyakan tentang jadwal penerimaan siswa baru.

Kalau sudah begini rasanya pengen sungkem minta maaf pada mama saya. Teringat dulu beliau yang selalu mondar mandir mencari dan mendaftarkan sekolah untuk saya, abang dan adik. Ternyata begini rasanya. Ingin anak bersekolah di sekolah yang bagus. Sekolah yang mengajarkan tentang agama karena ayah ibunya sibuk bekerja dari pagi pulang malam. Sekolah yang dekat rumah karena kami gak ingin si anak kecapean di traffic Jakarta yang super macet ini. Apalagi kami tidak punya sopir yang bisa antar dan jemput dia dengan mobil yang nyaman. Dia bahkan harus ikut antar jemput sekolah yang mana pastinya akan bikin durasi pulangnya lebih panjang karena harus ikut mengantar teman teman lainnya dulu.

Dan tanpa di sadari, ingin anak belajar di sekolah yang bagus agar menjadi anak baik dan soleh, tapi kelakukan ibunya pushy begini. i have been over reacting and i regret it. Tho it is not justifying the way i behaved, but the lesson learnt is so valuable for my future endeavour.

Mari belajar sabar.

umar

Advertisements