Pre-school: something we have in common

Seneng banget ternyata aku dan hubby punya pendapat yang sama ttg pre-school buat anak. Tanpa kompromi, krn mmg sama persis tumplek blek. đŸ™‚

Ini tentang pre-school. Jaman sekarang kan banyak banget tuh pre-school buat bayi toddler dari umur setahunan. Tapi aku dan hubby sepakat bahwa hanya akan memasukkan kheif ke pre-school di mulai dari usia diatas 3 tahun. Menurut hubby, anak dibawah 3 tahun lebih baik mendapatkan pendidikan dini langsung dari orang tuanya tanpa ada ‘intervensi’ pihak luar.

Kalau untuk sosialisasi insyaAllah tiap pagi dan sore hari banyak bayi dan toddler yang kumpul di lobby apartemen dan di playground deket kolam renang. Bisa naek sepeda dan lari2an sama temen2. Kalo mau mengasah motorik halus dan kasar bisa pergi ke playland yang ada di mall2 spt L*ll*p*p di MKG dan Sency, dan playmall di MOI dan Sency juga dengan pengawasan langsung dari orang tua.

Terus terang aja aku kurang sreg sama pre-school yang selama ini familiar denganku seperti T*t*r t*m*, Gymb*r**, T*mbl* t*t* dan lain-lain. Kenapa? Karena mereka pake Bahasa Inggris. Bukannya aku anti bhs Inggris. Sebaliknya i love English languange so much yang mana saking cintanya aku ambil kuliah di jurusan tsb selama bertahun-tahun. Tapi kalo di rumah kita menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dan pergi ke pre-school berbahasa Inggris, anak jadinya malah bingung.

aku ngomong gini berdasarkan pengalaman menemani ponakan ke Gymb*r**. Saat itu umurnya kurang lebih dua tahun. Disana dia bisa bermain motorik halus dan kasar  dengan play gym yang tersedia. Mereka juga menyanyi dan menari. Suatu kali, tema yang dibawakan adalah fire fighter alias petugas pemadam kebakaran. Gurunya udah semangat ngomongin ini itu ttg menjadi fireman tapi aku yakin banget anak2 itu gak ngerti sama sekali. Gak ngerti konsep fire apalagi fireman/fire-fighter atau putting off the fire alias memadamkan api kebakaran. it was very useless. Useless karena gak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Alhasil bener aja. Suatu hari, ponakanku mogok sekolah. Tiba2 aja dia gak mau dipakein baju seragam sekolahnya dan nangis kalo dipaksain. Ya sutralah, berhentilah dia sekolah disana yang cuma 2x seminggu itu.

Tapi tiap anak itu berbeda dan unik. Dan siapa yang bisa tau kebutuhan tiap anak tentulah orang tua masing2. Banyak juga temannya yang seneng2 aja sekolah disana. Kebanyakan karena mereka dirumah juga berbahasa Inggris dengan orang tuanya *hasil nguping kiri kanan,hehe*.

Sebagai orang tua, kalo buat pendidikan anak apa sih yang gak dibela2in?! Tapi pendidikan yang mana dulu. Kalo pendidikan dasar spt SD sampe Kuliah sih pastinya bakal dibela2in abis. Tapi klo buat pre-school di umur setahunan, Please be smart, mommies. Jangan hanya krn trend sekarang adalah menyekolahkan anak sedini mungkin kita sebagai orang tua jadi ‘tutup mata’ dan hanya ikut2an trend karena gak mau di cap ketinggalan jaman. Sesuaikanlah dengan kondisi, kemampuan dan kebutuhan. Dan jangan lupa, your children is your responsibility. Dengan memasukkan mereka ke sekolah dan berbagai les, bukan berarti orang tua bisa lepas tangan begitu saja. Karena jika nilai2 yang di ajarkan di sekolah berbeda dengan implementasi di rumah dan di kehidupan sehari2, anak bakalan bingung sehingga tujuannya mendapatkan pendidikan dini tidak dapat tercapai.

Aku tulis postingan ini no offense yah buat mommies yang masukin anaknya ke pre-school. Sesuai prinsip aku, dalam parenting itu ada yang sifatnya subjektif. Yang sesuai dengan keinginan dan nilai2 pribadi tiap keluarga on how they want to raise their children. Yang sesuai dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuan masing2 keluarga juga. Jadi untuk apa berdebat lagi, toh we all do have a thing in common; we want all the best for our children.

Dan untuk kondisi kami sekarang yang sama2 bekerja, belum nemu pre-school di Kelapa Gading yang sreg di hati, belum bisa beli mobil tambahan dan supir buat anter anak ke pre-school-nya, ditambah dgn transportasi publik di kelapa gading yg sangat sangat membahayakan keselamatan (sopir ugal-ugalan), dan berbagai pertimbangan lainnya, we’ll skip this pre-school -thingy till two more years at least. Up untill then, we’ll pray that when the day comes, there will be a way for us. Sekolah yang satu visi dengan kami, biaya yang sesuai, dan moda transportasi yang aman dan menenangkan hati untuk mengantar dan menjemput anak selamat pergi dan pulang dari sekolahnya. Amin YRA đŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s